Pengikut

RSS

Merawat Bayi Prematur


Merawat Bayi Prematur

Selasa, 24 Februari 2009 bibilung Tinggalkan komentar Go to comments
2 Votes
Quantcast


Satu dari 18 bayi terlahir prematur. Bayi prematur adalah bayi yang lahir pada usia kehamilan ibu kurang dari 36 minggu. Semua bayi prematur membutuhkan perawatan khusus, tetapi tidak semuanya perlu dirawat di ruang rawat intensif.

Kekuatan / tonus otot bayi prematur masih lemah dan ia tidak banyak bergerak. Mereka juga lebih mudah kekurangan kalsium dan zat besi, juga kadar gula darah yang lebih mudah turun. Kulitnya masih sangat merah dan keriput, kepalanya relatif lebih besar dibanding tubuhnya, tulang kepalanya teraba lunak, dan mereka lebih mudah menjadi kuning dan jika hal ini terjadi, dan bayi menjadi malas minum, segera bawa ke dokter. Memang sedih melihat tubuhnya yang begitu ringkih, tapi ibu tak perlu khawatir karena saat ini perawatan bayi prematur sudah amat modern.

Memberi nutrisi untuk si mungil

Bayi prematur perlu diberi susu lebih sering dibanding bayi cukup bulan karena mereka membakar kalori lebih cepat. Makin mungil tubuhnya, makin sering nutrisi perlu diberikan. Umumnya refleks hisap dan menelan sudah cukup baik pada bayi prematur dengan masa kehamilan > 34 minggu (berat lahir > 2000 gram), sehingga bayi dapat dicoba langsung menyusu pada ibunya. Telah dibuktikan bahwa bayi prematur lebih cepat belajar menetek dibanding minum dari botol. Bila refleks mengisap bayi sudah muncul, ia dapat langsung menetek pada ibu. Bila belum, susu diberikan dengan sendok khusus. Bila bayi belum ada refleks menelan atau amat lemah hingga tak bisa menelan, susu diberikan langsung ke saluran cernanya lewat selang. Untuk bayi yang sangat prematur atau sakit, nutrisi bisa diberikan lewat infus langsung ke pembuluh darah. Bayi prematur, disesuaikan dengan berat badannya, akan mendapatkan nutrisi secara bertahap tergantung kondisinya. Bila ia lahir amat kecil, bayi mendapat nutrisi bertahap mulai dari selang infus hingga akhirnya bisa menetek pada ibu. Agar ASI tersedia, ibu harus diajarkan cara memompa atau memerah ASI secara teratur dan yang paling penting adalah ibu tidak boleh stress, cukup istirahat dan makan. Ibu yang stress oleh karena bayi dipisahkan dari ibunya /dirawat di RS, dapat menghambat produksi ASI.

Mewaspadai gangguan pernapasan bagi si mungil

Apnea

Bayi prematur seringkali berhenti bernapas beberapa saat, disebut apnea. Apne sering ditemukan, terutama bila umur masa kehamilan di bawah 34 minggu. Oleh karena itu alat pantau sebaiknya dipasang sampai umur masa kehamilan mendekati 34 minggu.

Kebanyakan bayi bernapas kembali cukup dengan stimulasi seperti tepukan lembut di kakinya.

Sindroma Gawat Napas / Respiratory distress syndrome (RDS)

Bayi-bayi yang sangat kecil (lahir di bawah usia kehamilan 28 minggu) belum cukup memiliki surfaktan, suatu zat penting untuk menjaga paru-paru agar tidak menguncup. Paru-paru yang menguncup/kolaps tak bisa menangkap oksigen yang diperlukan untuk tubuh. Kondisi kekurangan surfaktan ini bisa menyebabkan penyakit membran hialin atau respiratory distress syndrome. Selama pernapasan bayi prematur belum normal, bayi akan mendapatkan bantuan oksigen, artinya bayi akan dirawat di tempat khusus yaitu Neonatal Intensive Care Unit (NICU)

Referensi
  1. Stoppard Miriam. Complete baby&childcare. Dorling Kindersley. Great Britain. 1995
  2. Pusponegoro HD, Hadinegoro SR, Firmanda D, Tridjaja B, Pudjiadi AH, Kosim MS, et al. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ed 1. Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2004
  3. Amir I. Manajemen nutrisi bayi baru lahir. In: Pediatrics Update. IDAI Jaya. 2003

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Infeksi Menular Seksual

IMS.gif (26520  bytes)

gim.jpg (6678  bytes)

color1.gif (325  bytes) Apa itu IMS ?

IMS adalah infeksi yang sebagian besar menular lewat hubungan seksual dengan pasangan yang sudah tertular. Hubungan seks ini termasuk hubungan seks lewat liang senggama, lewat mulut (oral) atau lewat dubur (anal).

IMS juga disebut penyakit kelamin atau penyakit kotor. Namun itu hanya menunjuk pada penyakit yang ada di kelamin. Istilah Infeksi Menular Seksual lebih luas maknanya, karena menunjuk pada cara penularannya. Tanda-tandanya tidak selalu ada di alat kelamin. Tanda-tandanya juga ada di alat penglihatan, mulut, saluran pencernaan, hati,otak dan bagian tubuh lainnya.

Contohnya HIV/AIDS dan Hepatitis B yang menular lewat hubungan seks, tetapi penyakitnya tidak bisa dilihat dari alat kelaminnya. Artinya, alat kelaminnya masih tampak sehat meskipun orangnya membawa bibit penyakit-penyakit ini.

ball11.gif (121 bytes) Mengapa saya perlu tahu tentang IMS ?

Kalau kita sudah pernah berhubungan seksual, maka kita dapat terkena IMS, walaupun mungkin kita cuma pernah berhubungan seksual satu kali saja.

ball18.gif (121 bytes) Apa bahayanya IMS ?

  • IMS membuat kita sakit-sakitan
  • IMS membuat kita mandul
  • IMS bisa merusak penglihatan, otak dan hati
  • IMS bisa ditularkan pada bayi
  • IMS bisa menyebabkan kita mudah tertular HIV
  • IMS tertentu seperti HIV dan Hepatitis B, bisa menyebabkan kematian.

ball32.gif (121 bytes) Apa saja jenis-jenis IMS itu?

Ims ada banyak sekali jenisnya. Beberapa diantaranya yang paling penting adalah :

  • GO atau kencing nanah
  • Klamidia
  • Herpes kelamin
  • Sifilis atau raja singa
  • Jengger ayam
  • Hepatitis
  • HIV/AIDS

ball64.gif (121 bytes) Apa semua IMS bisa diobati ?

Tidak semua IMS bisa diobati. HIV/AIDS, Herpes, Jenger Ayam dan Hepatitis termasuk jenis-jenis IMS yang tidak bisa disembuhkan. HIV/AIDS termasuk paling berbahaya. HIV/AIDS tidak bisa disembuhkan dan merusak kekebalan tubuh manusia untuk melawan penyakit apapun. Akibatnya, orang menjadi sakit-sakitan dan banyak yang meninggal karenanya.

Sementara Herpes, sering kambuh dan sangat nyeri kalau kambuh. Pada Herpes, yang diobati cuma gejala luarnya saja, tetapi bibit penyakitnya akan tetap hidup di dalam tubuh selamanya.

Catat ! Hepatitis juga tidak bisa disembuhkan. Walau begitu, ada jenis Hepatitis tertentu yang bisa dicegah dengan imunisasi.

ball89.gif (121 bytes) Apa yang harus kita lakukan kalau terkena IMS ?

Kalau terkena IMS atau curiga terkena IMS :

  • Cepat ke dokter ! IMS harus diobati, tetapi jangan mengobati sendiri. Dokter saja perlu melakukan tes untuk memastikan IMS yang diderita pasiennya. Obat IMS juga berbeda-beda tergantung jenis IMS-nya. Cuma dokter yang tahu obat paling tepat untuk IMS yang diderita. Pergilah ke dokter, klinik, puskesmas atau rumah sakit. ikuti saran dokter atau petugas kesehatan dan habiskan semua obatnya meski sakit dan gejalanya sudah hilang. Ajak atau anjurkan semua pasangan seks yang Anda ketahui untuk juga berobat.
  • Jangan melakukan hubungan seks selama dalam pengobatan IMS.
  • Beberapa IMS meskipun diobati, tidak bisa disembuhkan dan sifatnya kumat-kumatan. Herpes misalnya, akan kumat pada waktu-waktu tertentu.
  • Tes IMS tidak selalu dilakukan kecuali kalau perlu. Biasanya dokter memeriksa berdasarkan tanda-tanda atau gejala-gejala yang kita rasakan. Jawablah semua pertanyaan dokter dengan jujur supaya ia dapat memberikan obat yang tepat.

ball11.gif (121 bytes) Mencegah IMS !!!

Cara mencegah IMS pada orang dewasa terutama adalah dengan tidak membiarkan darah atau cairan kelamin orang lain masuk ke dalam tubuh kita. Bagaimana mungkin?

Pencegahan Penularan lewat seks :

A

Absen dari seks, alias tidak berhubungan seks sama sekali sehingga tidak ada cairan kelamin yang masuk ke dalam tubuh. ini sama dengan Pantang Seks atau Puasa Seks saat jauh dari pasangan

B

Berlaku saling setia, atau berhubungan hanya dengan seseorang yang dapat dipastikan hanya berhubungan seks dengan kita saja kalau sudah menikah atau kita tidak bisa berpantang seks.

C

Cegah infeksi dengan menggunakan kondom sewaktu berhubungan seks. BIla kita tidak dapat memastikan kesetiaan pasangan kita, atau tidak tahu apakah ia pernah menerima transfusi darah, tato, suntuka dengan jarum yang tidak steril, gunakan kondom. Juga bila kita tidak bisa setia kepada pasangan kita. Gunakan kondom untuk hubungan seksual baik lewat liang senggama, lewat mulut maupun lewat dubur.

Pencegahan Penularan Cara lainnya :

  1. Mencegah masuknya transfusi darah tambahan yang belum diperiksa kebersihannya dari IMS ke dalam tubuh kita.

  2. Berhati-hati waktu menangani segala hal yang tercemar oleh darah segar.

  3. Mencegah pemakaian alat-alat tembus kulit yang tidak suci hama atau tidak steril terhadap diri kita. Misalnya Jarum suntik, alat tato, alat tindik dan sejenisnya yang bekas dipakai orang lain. Jarum suntik yang abru biasanya masih dalam plastik dan dibuka dihadapan kita.

Penularan IMS

Kita bisa terkena IMS melalui hubungan seks yang tidak aman. Yang dimaksudkan tidak aman adalah :

  • Hubungan seks lewat liang senggama tanpa kondom (zakar masuk ke vagina atau liang senggama)

  • Hubungan seks lewat dubur tanpa kondom (zakar masuk ke dubur)

  • Seks oral (zakar dimasukkan ke mulut tanpa zakar ditutupi kondom)

Tidak benar kalau IMS ditularkan lewat cara-cara berikut :

ims21.gif (8381  bytes)

ims22.gif (8729  bytes)

ims23.gif (7760  bytes)

Duduk di samping orang yang terkena IMS

Menggunakan WC Umum Bekerja terlalu keras

ims26.gif (7825  bytes)

ims25.gif (7524  bytes)

ims24.gif (7859  bytes)

Menggunakan kolam renang umum Memegang gagang pintu Salaman

TABEL IMS

Nama IMS

Gejala Umum Gejala Khusus

Jenis Tes

Chlamidya (klamidia)

ims1.gif (18295  bytes)

Nyeri saat Kencing

Keluar cairan lendir & bening dari kemaluan, terasa gatal berwarna kuning atau kehijauan dan bau.

Pemeriksaan cairan atau lendir

Raja singa (sifilis)

ims5.gif (15495  bytes)

Bintil-bintil berair seperti cacar disertai timbulnya luka yang terasa nyeri di sekitar kelamin.

Pada stadium lanjut akan nampak kelamin kulit seperti koreng berwarna merah
(luka terbuka)

Tes darah

Kencing Nanah (GO)

ims2.gif (19022  bytes)

Nyeri yang sangat saat kencing

Tampak cairan berupa nanah kental pada kemaluan. Cairan juga bisa keluar dari dubur

Pemeriksaan Nanah

Herpes genital Badan lemes, nyeri sendi pada daerah terinfeksi, demam Tampak kelainan kulit yang berbenjol-benjol, bulat atau lonjong kecil sebesar 2-5 mm Tes darah
Kutil kelamin/Jengger Ayam

ims3.gif (16478  bytes)

Timbul kutil pada daerah terinfeksi Dalam kasus lanjut, kutil bergerombol seperti jengger ayam di daerah kemaluan dan daerah anus Pemeriksaan jaringan dan tes darah
Hepatitis Badan lemes, kurang gairah dan kadang demam Pada kasus parah, tampak kulit selaput mata berwarna kuning Tes darah
HIV / AIDS

Viruss.gif (8902  bytes)

Virus walaupun sudah ada di dalam darah tidak menunjukkan gejala sama sekali Penderita yang sudah menunjukkan gejala AIDS, nampak gejala yang sangat kompleks, yang sulit dibedakan dengan penderita kanker stadium lanjut. Tes darah untuk mendeteksi virus HIV : Elisa dan Western Blood

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Asuhan Bayi Baru lahir dan IMD

Asuhan Bayi Baru Lahir dan Inisiasi Menyusui Dini
Spirit NTT No 174/IV Edisi 31 Agustus - 6 September 2009
Rabu, 2 September 2009 | 22:30 WIB
Oleh dr. Simplicia Maria A Fernandez, SpA
(SMF Anak RSUD Prof. Dr. WZ Johannes-Kupang/Anggota Tim Revolusi KIA Dinkes Provinsi NTT)
HINGGA saat ini, 536.000 perempuan meninggal setiap tahunnya karena komplikasi kehamilan dan persalinan, di mana 99 persen terjadi di negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Dapat dikatakan, setiap satu menit satu nyawa perempuan tak tertolong. Selain itu, 4.3 juta bayi meninggal dalam bulan pertama usianya dan 4 juta bayi lahir mati karena komplikasi kehamilan dan proses persalinan (Harian Kompas, 7 Agustus 2009, hal. 33).
Hasil Survai Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2004 menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di Provinsi NTT adalah 554 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi (AKB), Nasional 52 per 1000 kelahiran hidup dan di Provinsi NTT adalah 62 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini masih jauh di atas angka rata-rata Provinsi lainnya di Indonesia.
Mencermati kondisi ini dan memahami bahwa penurunan AKI dan AKB di NTT masih lambat bila dikaitkan dengan target Millenium Developmental Goals yang menargetkan pada tahun 2015 AKI berkurang tiga perempat dan angka kematian anak balita berkurang dua pertiga dibanding keadaan tahun 2000 saat MDGs dideklarasikan, juga bila dibandingkan AKI dan AKB pada tahun 2004, maka Pemerintah Provinsi NTT mencanangkan Revolusi KIA dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Revolusi KIA di Provinsi NTT intinya adalah membawa setiap ibu hamil untuk bersalin di fasilitas kesehatan yang memadai. Salah satu strategi untuk mendukung upaya ini adalah tersedianya penolong persalinan yang benar-benar kompeten di bidangnya, ditunjang oleh tempat/fasilitas, alat dan obat-obatan yang memadai dan terstandarisasi, serta tatalaksana kasus yang juga terstandarisasi serta tersedianya pembiayaan yang memadai (biaya operasional dan biaya pemeliharaan).

Asuhan Bayi Baru Lahir
Dalam upaya menurunkan AKB, selain tindakan asuhan persalinan yang tepat dan benar, juga tidak kalah pentingnya adalah asuhan bayi baru lahir yang tepat dan benar juga. Menurut data Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, penyebab kematian neonatal (bayi sampai usia 28 hari) paling tinggi adalah karena bayi berat lahir rendah (BBLR, didefinisikan sebagai bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram), yaitu sebesar 29 persen. Disusul penyebab urutan kedua karena asfiksia pada bayi baru lahir (asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir yang gagal atau tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur), sebesar 27 persen.
Pada setiap kasus persalinan, penolong persalinan seyogyanya senantiasa siap siaga untuk memberikan tatalaksana bayi dengan asfiksia. Tidak setiap kasus asfiksia dapat diramalkan sebelum bayi lahir, mengingat 90 persen penyulit terjadi pada saat persalinan. Di dalam benak setiap penolong persalinan harus sudah ada empat pertanyaan yang menunjukkan risiko bayi yang membutuhkan resusitasi (upaya pemulihan/pertolongan kegawatdaruratan sistem pernafasan dan sistem peredaran darah), yaitu:
- Apakah bayi lahir cukup bulan?
- Apakah cairan ketuban jernih?
- Apakah bayi lahir bernapas atau menangis?
- Apakah tonus otot bayi baik?
Jika salah satu dari empat pertanyaan di atas dijawab tidak, maka bayi memerlukan tindakan resusitasi, yang tentunya hanya dapat dilakukan di fasilitas kesehatan yang memadai.
Tatalaksana resusitasi pada kasus di atas dapat berupa:
- memberikan kehangatan pada bayi untuk mencegah hipotermia (suhu tubuh di bawah normal),
- membuka jalan napas dengan memposisikan kepala bayi setengah tengadah dan membersihkan jalan napas jika perlu,
- pemberian oksigen,
- memberikan napas buatan dengan alat,
- kompresi dada (pijat jantung),
- dan mungkin pemberian obat-obatan langsung ke pembuluh darah bayi.
Penolong persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai (dokter umum/spesialis, bidan, dan perawat) sudah memperoleh pelatihan sehingga mampu melakukan langkah-langkah resusitasi ini sesuai algoritma, di mana setiap tindakan didasari pada penilaian kondisi bayi dalam hal: usaha bernapas, frekuensi denyut jantung dan warna kulitnya.
Penilaian dan keputusan setiap tindakan selanjutnya dilakukan setiap 30 detik. Jika upaya resusitasi ini terlambat dimulai atau tidak dilakukan dengan tepat dan benar, dapat mengakibatkan kecacatan dan kematian.
Selanjutnya, bayi baru lahir yang sudah mengalami tindakan resusitasi, masih memerlukan perawatan di bawah pengamatan tenaga kesehatan. Jika bayi sampai memperoleh tindakan resusitasi berupa pemberian napas buatan dan seterusnya, bayi tersebut bahkan harus dirawat pada ruang rawat intensif khusus untuk bayi baru lahir (NICU: Neonatal Intencive Care Unit).
Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu bayi yang lahir belum cukup bulan (prematur) atau bayi lahir cukup bulan tetapi kecil menurut masa kehamilannya (KMK).
Bayi KMK dapat dikatakan sebagai bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan semenjak dalam rahim ibunya, atau bayi yang mengalami malnutrisi atau kurang gizi semasa masih dalam rahim.
BBLR juga berisiko tinggi mengalami asfiksia pada saat lahir, terutama BBLR yang prematur. Asuhan bayi baru lahir pada bayi ini juga akan makin kompleks, mengingat BBLR seringkali mempunyai masalah dalam pemberian minum, atau bahkan karena ada penyulit-penyulit lain lagi, belum dapat diberi minum sama sekali sehingga membutuhkan pemberian cairan lewat jalur infus.
Untuk bayi yang belum dapat minum sendiri, diperlukan bantuan dari tenaga kesehatan untuk memberikan minum berupa air susu ibu yang diperah (ASI perah) melalui selang yang langsung masuk ke lambung bayi (orogastric tube), atau pemberian minum dengan menggunakan cangkir dan sendok karena bayi prematur atau bayi kecil seringkali belum mampu menyusu langsung pada ibunya. Setelah bayi mampu mengisap dan menelan, akan dilatihkan untuk menyusu pada ibunya, sehingga BBLR akan tetap dapat memperoleh ASI.
Selain masalah dalam pemberian minum, BBLR rentan terhadap pengaruh suhu lingkungan yang dingin dan dapat menyebabkan hilangnya panas tubuh bayi, sehingga berisiko tinggi untuk terjadinya hipotermia yang dapat berakibat kematian. Dalam hal ini dibutuhkan perawatan BBLR dalam inkubator atau kotak penghangat di fasilitas kesehatan. Setelah suhu bayi stabil, untuk mencegah terjadinya hipotermia berulang, akan dilatihkan kepada ibu atau anggota keluarga yang lain cara menjaga kehangatan tubuh bayi dengan Perawatan Metode Kangguru (PMK).
PMK ini dapat dilakukan dan dilanjutkan di rumah, yang intinya adalah upaya menjaga kehangatan tubuh bayi melalui kontak kulit bayi dengan kulit tubuh ibu atau angota keluarga lain, dengan posisi seperti seekor kangguru yang menggendong janin/bayinya.
Kontak kulit dengan kulit atau PMK ini dapat menggantikan fungsi inkubator atau kotak penghangat, bagi bayi prematur atau bayi kecil yang sudah teratasi penyulitnya dan sudah dapat dirawat di rumah.
BBLR juga berisiko terhadap terjadinya hipoglikemia (kadar gula darah di bawah normal), hiperbilirubinemia (bayi kuning), dan infeksi berat. Penyulit-penyulit di atas juga menjadi penyebab tersering kematian pada BBLR.
Sesungguhnya, upaya yang paling tepat untuk menghindari BBLR dengan berbagai penyulitnya adalah dengan upaya pencegahan terjadinya BBLR berupa antara lain:
- mencegah kelahiran prematur
- pemeriksaan selama kehamilan secara teratur dan berkualitas
- meningkatkan status gizi ibu hamil
- menghindari merokok dan atau terisap asap rokok selama hamil.
Selain kemungkinan bayi lahir dengan BBLR dan atau asfiksia, sebagian besar bayi lahir normal dan bugar. Bayi dikatakan bugar bila: lahir langsung menangis, gerakan atau tonus otot kuat, dan warna kulit kemerahan. Untuk bayi yang demikian, dilakukan asuhan bayi baru lahir rutin berupa:
- membersihkan jalan napas, bila perlu
- mengeringkan
- memberikan kehangatan
Dalam memberikan kehangatan pada bayi yang bugar, dilakukan dengan jalan meletakkan bayi tengkurap di perut atau dada ibu dan membiarkan terjadi kontak kulit bayi dengan kulit ibu paling sedikit selama 60 menit. Dalam periode ini, umumnya bayi akan terjaga dan siaga, kemudian mulai menggerak-gerakkan mulutnya seperti mau minum dan mengeluarkan air liur, lalu bergerak merangkak ke arah payudara, mencari dan menemukan puting susu ibu, kemudian mulai menyusu sendiri. Ajaib!!

Inisiasi Menyusu Dini
Tindakan meletakkan bayi di atas perut atau dada ibu dan membiarkan terjadinya kontak kulit bayi dengan kulit ibu inilah yang dikenal sebagai inisiasi menyusu dini (IMD). Ternyata, bayi manusia juga seperti bayi mamalia yang lain mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri, mencari makanan alami sumber kehidupannya sendiri, asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya paling kurang selama 60 menit.
Pada dekade terakhir ini mulai disosialisasikan tindakan IMD ini pada semua bayi lahir yang bugar. Penelitian oleh Dr. Karen Edmond di Ghana pada tahun 2006 terhadap hampir 11.000 bayi yang dilakukan IMD, membuktikan bahwa IMD dapat menurunkan angka kematian neonatal sampai 22 persen (Pediatrics, Maret 2006). Jika fakta saat ini dalam setahun ada 4,3 juta neonatus yang meninggal, maka dengan IMD seharusnya akan ada sejuta bayi yang terselamatkan.
Penelitian lain membuktikan bahwa IMD dapat meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Pada usia 6 bulan dan setahun, di antara bayi yang dilakukan IMD terdapat 59 persen dan 38 persen yang masih menyusu, dibandingkan dengan 29 persen dan 8 persen bayi tanpa IMD (Sose dkk, Ciba Foundation, 1978). Penelitian oleh Fika dan Syafiq di Jakarta, menyimpulkan bahwa bayi dengan IMD 8 kali lebih berhasil menyusu 6 bulan eksklusif (Jurnal Kedokteran Trisakti, 2003).
Manfaat lain dari IMD dapat disebutkan sebagai berikut (Dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, 2008):
- Kulit perut dan dada ibu berperan sebagai termoregulator yang tepat sehingga mengurangi risiko bayi untuk mengalami hipotermia
- Ibu dan bayi merasa tenang, pernapasan dan denyut jantung bayi lebih stabil, bayi lebih jarang menangis sehingga mengurangi penggunaan energi
- Saat bayi merangkak mendekati payudara, biasanya sambil menjilat-jilat kulit ibu dan memungkinkan tertelannya bakteri 'baik' dari kulit ibu. Bakteri ini akan membentuk koloni di kulit dan usus bayi yang akan 'menyaingi' dan melindungi bayi dari bakteri 'jahat' yang berasal dari lingkungan
- Hentakan kepala bayi, sentuhan tangan bayi pada puting ibu, jilatan dan isapan bayi akan merangsang hormon oksitosin yang juga dapat membantu menyembuhkan rahim ibu.
- Bayi segera memperoleh air susu pertama yang dikenal sebagai kolustrum, yang banyak sekali mengandung zat-zat antiinfeksi
- Ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi (bonding) akan lebih kuat, sehingga meningkatkan rasa percaya diri ibu dalam keberhasilan menyusui dan mendidik anaknya.
- Bila ayah juga ikut mendampingi, maka akan memberikan rasa takjub dan meningkatkan rasa percaya diri juga sebagai seorang ayah.
IMD dengan segala manfaat di atas, terbukti meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan keberhasilan pemberian ASI sampai anak usia 2 tahun atau lebih. Dengan pemberian ASI, terbukti dapat mengurangi angka kesakitan karena ASI banyak mengandung zat-zat antiinfeksi (yang tidak dapat ditiru atau ditambahkan dalam susu formula apapun), mengurangi kejadian gizi kurang dan gizi buruk, mengurangi pengeluaran di tingkat rumah tangga dibanding jika harus membeli susu formula dan harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan bila anak sakit, dan pada akhirnya akan berdampak besar pada penurunan AKB.
Sebagai resume dari tulisan ini, dalam ranah Revolusi KIA Provinsi NTT, jika setiap ibu hamil bersalin di fasilitas kesehatan yang memadai, mendapat asuhan bayi baru lahir oleh penolong persalinan yang kompeten, dengan tatalaksana yang terstandarisasi, serta dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD) pada setiap bayi yang lahir bugar, akan banyak bayi-bayi terselamatkan dan AKB diyakini akan berhasil diturunkan dengan lebih cepat. *

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

persalinan normal

FISIOLOGI PROSES PERSALINAN NORMAL

Fisiologi Proses Persalinan Normal
Kuliah Obstetri Ginekologi
dr. Nugroho Kampono / dr. H. Endy M. Moegni

PERSALINAN / PARTUS

Adalah suatu proses pengeluaran hasil konsepsi yang dapat hidup, dari dalam uterus melalui vagina atau jalan lain ke dunia luar.

Partus normal / partus biasa
Bayi lahir melalui vagina dengan letak belakang kepala / ubun-ubun kecil, tanpa memakai alat / pertolongan istimewa, serta tidak melukai ibu maupun bayi (kecuali episiotomi), berlangsung dalam waktu kurang dari 24 jam.

Partus abnormal
Bayi lahir melalui vagina dengan bantuan tindakan atau alat seperti versi / ekstraksi, cunam, vakum, dekapitasi, embriotomi dan sebagainya, atau lahir per abdominam dengan sectio cesarea.

Beberapa istilah
Gravida : wanita yang sedang hamil
Para : wanita pernah melahirkan bayi yang dapat hidup (viable)
In partu : wanita yang sedang berada dalam proses persalinan

SEBAB TERJADINYA PROSES PERSALINAN

1. Penurunan fungsi plasenta : kadar progesteron dan estrogen menurun mendadak, nutrisi janin dari plasenta berkurang.
(pada diagram, dari Lancet, kok estrogen meningkat ?)
2. Tekanan pada ganglion servikale dari pleksus Frankenhauser, menjadi stimulasi (pacemaker) bagi kontraksi otot polos uterus.
3. Iskemia otot-otot uterus karena pengaruh hormonal dan beban, semakin merangsang terjadinya kontraksi.
4. Peningkatan beban / stress pada maternal maupun fetal dan peningkatan estrogen mengakibatkan peningkatan aktifitas kortison, prostaglandin, oksitosin, menjadi pencetus rangsangan untuk proses persalinan (DIAGRAM)

PERSALINAN DITENTUKAN OLEH 3 FAKTOR “P” UTAMA

Power
His (kontraksi ritmis otot polos uterus), kekuatan mengejan ibu, keadaan kardiovaskular respirasi metabolik ibu.
Passage
Keadaan jalan lahir
Passanger
Keadaan janin (letak, presentasi, ukuran/berat janin, ada/tidak kelainan anatomik mayor)
(++ faktor2 “P” lainnya : psychology, physician, position)
Dengan adanya keseimbangan / kesesuaian antara faktor-faktor “P” tersebut, persalinan normal diharapkan dapat berlangsung.

PEMBAGIAN FASE / KALA PERSALINAN
Kala 1
Pematangan dan pembukaan serviks sampai lengkap (kala pembukaan)
Kala 2
Pengeluaran bayi (kala pengeluaran)
Kala 3
Pengeluaran plasenta (kala uri)
Kala 4
Masa 1 jam setelah partus, terutama untuk observasi

HIS

His adalah gelombang kontraksi ritmis otot polos dinding uterus yang dimulai dari daerah fundus uteri di mana tuba falopii memasuki dinding uterus, awal gelombang tersebut didapat dari ‘pacemaker’ yang terdapat di dinding uterus daerah tersebut.

Resultante efek gaya kontraksi tersebut dalam keadaan normal mengarah ke daerah lokus minoris yaitu daerah kanalis servikalis (jalan laihir) yang membuka, untuk mendorong isi uterus ke luar.

Terjadinya his, akibat :
1. kerja hormon oksitosin
2. regangan dinding uterus oleh isi konsepsi 3
3. rangsangan terhadap pleksus saraf Frankenhauser yang tertekan massa konsepsi.

His yang baik dan ideal meliputi :
1. kontraksi simultan simetris di seluruh uterus
2. kekuatan terbesar (dominasi) di daerah fundus
3. terdapat periode relaksasi di antara dua periode kontraksi.
4. terdapat retraksi otot-otot korpus uteri setiap sesudah his
5. serviks uteri yang banyak mengandung kolagen dan kurang mengandung serabut otot,akan tertarik ke atas oleh retraksi otot-otot korpus, kemudian terbuka secara pasif dan mendatar (cervical effacement). Ostium uteri eksternum dan internum pun akan terbuka.

Nyeri persalinan pada waktu his dipengaruhi berbagai faktor :
1. iskemia dinding korpus uteri yang menjadi stimulasi serabut saraf di pleksus hipogastrikus diteruskan ke sistem saraf pusat menjadi sensasi nyeri.
2. peregangan vagina, jaringan lunak dalam rongga panggul dan peritoneum, menjadi rangsang nyeri.
3. keadaan mental pasien (pasien bersalin sering ketakutan, cemas/ anxietas, atau eksitasi).
4. prostaglandin meningkat sebagai respons terhadap stress
Pengukuran kontraksi uterus
1. amplitudo : intensitas kontraksi otot polos : bagian pertama peningkatan agak cepat, bagian kedua penurunan agak lambat.
2. frekuensi : jumlah his dalam waktu tertentu (biasanya per 10 menit).
3. satuan his : unit Montevide (intensitas tekanan / mmHg terhadap frekuensi).

Sifat his pada berbagai fase persalinan
Kala 1 awal (fase laten)
Timbul tiap 10 menit dengan amplitudo 40 mmHg, lama 20-30 detik. Serviks terbuka sampai 3 cm. Frekuensi dan amplitudo terus meningkat.
Kala 1 lanjut (fase aktif) sampai kala 1 akhir
Terjadi peningkatan rasa nyeri, amplitudo makin kuat sampai 60 mmHg, frekuensi 2-4 kali / 10 menit, lama 60-90 detik. Serviks terbuka sampai lengkap (+10cm).
Kala 2
Amplitudo 60 mmHg, frekuensi 3-4 kali / 10 menit. Refleks mengejan terjadi juga akibat stimulasi dari tekanan bagian terbawah janin (pada persalinan normal yaitu kepala) yang menekan anus dan rektum. Tambahan tenaga meneran dari ibu, dengan kontraksi otot-otot dinding abdomen dan diafragma, berusaha untuk mengeluarkan bayi.
Kala 3
Amplitudo 60-80 mmHg, frekuensi kontraksi berkurang, aktifitas uterus menurun. Plasenta dapat lepas spontan dari aktifitas uterus ini, namun dapat juga tetap menempel (retensio) dan memerlukan tindakan aktif (manual aid).

PERSALINAN KALA 1 :

FASE PEMATANGAN / PEMBUKAAN SERVIKS

DIMULAI pada waktu serviks membuka karena his : kontraksi uterus yang teratur, makin lama, makin kuat, makin sering, makin terasa nyeri, disertai pengeluaran darah-lendir yang tidak lebih banyak daripada darah haid.
BERAKHIR pada waktu pembukaan serviks telah lengkap (pada periksa dalam, bibir porsio serviks tidak dapat diraba lagi). Selaput ketuban biasanya pecah spontan pada saat akhir kala I.

Fase laten : pembukaan sampai mencapai 3 cm, berlangsung sekitar 8 jam.
Fase aktif : pembukaan dari 3 cm sampai lengkap (+ 10 cm), berlangsung sekitar 6 jam. Fase aktif terbagi atas :
1. fase akselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 3 cm sampai 4 cm.
2. fase dilatasi maksimal (sekitar 2 jam), pembukaan 4 cm sampai 9 cm.
3. fase deselerasi (sekitar 2 jam), pembukaan 9 cm sampai lengkap (+ 10 cm).

Peristiwa penting pada persalinan kala 1

1. keluar lendir / darah (bloody show) akibat terlepasnya sumbat mukus (mucous plug) yang selama kehamilan menumpuk di kanalis servikalis, akibat terbukanya vaskular kapiler serviks, dan akibat pergeseran antara selaput ketuban dengan dinding dalam uterus.
2. ostium uteri internum dan eksternum terbuka sehingga serviks menipis dan mendatar.
3. selaput ketuban pecah spontan (beberapa kepustakaan menyebutkan ketuban pecah dini jika terjadi pengeluaran cairan ketuban sebelum pembukaan 5 cm).
Pematangan dan pembukaan serviks (cervical effacement) pada primigravida berbeda dengan pada multipara :
1. pada primigravida terjadi penipisan serviks lebih dahulu sebelum terjadi pembukaan – pada multipara serviks telah lunak akibat persalinan sebelumnya, sehingga langsung terjadi proses penipisan dan pembukaan
2. pada primigravida, ostium internum membuka lebih dulu daripada ostium eksternum (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti lingkaran kecil di tengah) – pada multipara, ostium internum dan eksternum membuka bersamaan (inspekulo ostium tampak berbentuk seperti garis lebar)
3. periode kala 1 pada primigravida lebih lama (+ 20 jam) dibandingkan multipara (+14 jam) karena pematangan dan pelunakan serviks pada fase laten pasien primigravida memerlukan waktu lebih lama.

PERSALINAN KALA 2 :

FASE PENGELUARAN BAYI

DIMULAI pada saat pembukaan serviks telah lengkap.
BERAKHIR pada saat bayi telah lahir lengkap.
His menjadi lebih kuat, lebih sering, lebih lama, sangat kuat.
Selaput ketuban mungkin juga baru pecah spontan pada awal kala 2.

Peristiwa penting pada persalinan kala 2

1. Bagian terbawah janin (pada persalinan normal : kepala) turun sampai dasar panggul.
2. Ibu timbul perasaan / refleks ingin mengejan yang makin berat.
3. Perineum meregang dan anus membuka (hemoroid fisiologik)
4. Kepala dilahirkan lebih dulu, dengan suboksiput di bawah simfisis (simfisis pubis sebagai sumbu putar / hipomoklion), selanjutnya dilahirkan badan dan anggota badan.
5. Kemungkinan diperlukan pemotongan jaringan perineum untuk memperbesar jalan lahir (episiotomi).

Lama kala 2 pada primigravida + 1.5 jam, multipara + 0.5 jam.
Gerakan utama pengeluaran janin pada persalinan dengan letak belakang kepala

1. Kepala masuk pintu atas panggul : sumbu kepala janin dapat tegak lurus dengan pintu atas panggul (sinklitismus) atau miring / membentuk sudut dengan pintu atas panggul (asinklitismus anterior / posterior).
2. Kepala turun ke dalam rongga panggul, akibat : 1) tekanan langsung dari his dari daerah fundus ke arah daerah bokong, 2) tekanan dari cairan amnion, 3) kontraksi otot dinding perut dan diafragma (mengejan), dan 4) badan janin terjadi ekstensi dan menegang.
3. Fleksi : kepala janin fleksi, dagu menempel ke toraks, posisi kepala berubah dari diameter oksipito-frontalis (puncak kepala) menjadi diameter suboksipito-bregmatikus (belakang kepala).
4. Rotasi interna (putaran paksi dalam) : selalu disertai turunnya kepala, putaran ubun-ubun kecil ke arah depan (ke bawah simfisis pubis), membawa kepala melewati distansia interspinarum dengan diameter biparietalis.
5. Ekstensi : setelah kepala mencapai vulva, terjadi ekstensi setelah oksiput melewati bawah simfisis pubis bagian posterior. Lahir berturut-turut : oksiput, bregma, dahi, hidung, mulut, dagu.
6. Rotasi eksterna (putaran paksi luar) : kepala berputar kembali sesuai dengan sumbu rotasi tubuh, bahu masuk pintu atas panggul dengan posisi anteroposterior sampai di bawah simfisis, kemudian dilahirkan bahu depan dan bahu belakang.
7. Ekspulsi : setelah bahu lahir, bagian tubuh lainnya akan dikeluarkan dengan mudah. Selanjutnya lahir badan (toraks,abdomen) dan lengan, pinggul / trokanter depan dan belakang, tungkai dan kaki.

PERSALINAN KALA 3 :

FASE PENGELUARAN PLASENTA

DIMULAI pada saat bayi telah lahir lengkap.
BERAKHIR dengan lahirnya plasenta.
Kelahiran plasenta : lepasnya plasenta dari insersi pada dinding uterus, serta pengeluaran plasenta dari kavum uteri.
Lepasnya plasenta dari insersinya : mungkin dari sentral (Schultze) ditandai dengan perdarahan baru, atau dari tepi / marginal (Matthews-Duncan) jika tidak disertai perdarahan, atau mungkin juga serempak sentral dan marginal.
Pelepasan plasenta terjadi karena perlekatan plasenta di dinding uterus adalah bersifat adhesi, sehingga pada saat kontraksi mudah lepas dan berdarah.
Pada keadaan normal, kontraksi uterus bertambah keras, fundus setinggi sekitar / di atas pusat.
Plasenta lepas spontan 5-15 menit setelah bayi lahir.
(jika lepasnya plasenta terjadi sebelum bayi lahir, disebut solusio/abruptio placentae – keadaan gawat darurat obstetrik !!).

KALA 4 :

OBSERVASI PASCAPERSALINAN

Sampai dengan 1 jam postpartum, dilakukan observasi.

7 pokok penting yang harus diperhatikan pada kala 4 :
1) kontraksi uterus harus baik,
2) tidak ada perdarahan pervaginam atau dari alat genital lain,
3) plasenta dan selaput ketuban harus sudah lahir lengkap,
4) kandung kencing harus kosong,
5) luka-luka di perineum harus dirawat dan tidak ada hematoma,
6) resume keadaan umum bayi, dan
7) resume keadaan umum ibu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

kanker servik


Kanker Leher Rahim

Dr. Yohanes Riono
Dept of Surgery Holywood Hospital.



Tentu anda sudah tak asing lagi dengan istilah kanker servik (Cervical Cancer), atau kanker pada leher rahim. Benar, sesuai dengan namanya, kanker leher rahim adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan liang senggama (vagina). Kanker ini biasanya terjadi pada wanita yang telah berumur, tetapi bukti statistik menunjukan bahwa kanker leher rahim dapat juga menyerang wanita yang berumur antara 20 sampai 30 tahun.
Memang istilah "kanker" sendiri sudah pasti memberi kesan menakutkan dan menyeramkan. Laksana seorang terpidana menerima hukuman mati.

Bagaimana pula dengan kanker leher rahim?
Apakah juga sama menakutkannya dengan beberapa kanker lainnya?
Menurut para ahli kanker, kanker leher rahim adalah salah satu jenis kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan dari semua kasus kanker. Tetapi, biarpun demikian, di wilayah Australia barat saja, tercatat sebanyak 85 orang wanita didiagnosa positif terhadap kanker leher rahim setiap tahun. Dan pada tahun 1993 saja, 40 wanita telah tewas menjadi korban keganasan kanker ini.

Bagaimanakah kanker leher rahim terjadi?
Layaknya semua kanker, kanker leher rahim terjadi ditandai dengan adanya pertumbuhan sel-sel pada leher rahim yang tidak lazim (abnormal). Tetapi sebelum sel-sel tersebut menjadi sel-sel kanker, terjadi beberapa perubahan yang dialami oleh sel-sel tersebut. Perubahan sel-sel tersebut biasanya memakan waktu sampai bertahun-tahun sebelum sel-sel tadi berubah menjadi sel-sel kanker. Selama jeda tersebut, pengobatan yang tepat akan segera dapat menghentikan sel-sel yang abnormal tersebut sebelum berubah menjadi sel kanker. Sel-sel yang abnormal tersebut dapat dideteksi kehadirannya dengan suatu test yang disebut "Pap smear test", sehingga semakin dini sel-sel abnormal tadi terdeteksi, semakin rendahlah resiko seseorang menderita kanker leher rahim.
Memang Pap smear test adalah suatu test yang aman dan murah dan telah dipakai bertahun-tahun lamanya untuk mendeteksi kelainan-kelainan yang terjadi pada sel-sel leher rahim. Test ini ditemukan pertama kali oleh Dr. George Papanicolou, sehingga dinamakan Pap smear test. Pap smear test adalah suatu metode pemeriksaan sel-sel yang diambil dari leher rahim dan kemudian diperiksa di bawah mikroskop untuk melihat perubahan-perubahan yang terjadi dari sel tersebut. Perubahan sel-sel leher rahim yang terdeteksi secara dini akan memungkinkan beberapa tindakan pengobatan diambil sebelum sel-sel tersebut dapat berkembang menjadi sel kanker.
Test ini hanya memerlukan waktu beberapa menit saja. Dalam keadaan berbaring terlentang, sebuah alat yang dinamakan spekulum akan dimasukan kedalam liang senggama. Alat ini berfungsi untuk membuka dan menahan dinding vagina supaya tetap terbuka, sehingga memungkinkan pandangan yang bebas dan leher rahim terlihat dengan jelas. Sel-sel leher rahim kemudian diambil dengan cara mengusap leher rahim dengan sebuah alat yang dinamakan spatula, suatu alat yang menyerupai tangkai pada es krim, dan usapan tersebut dioleskan pada obyek-glass, dan kemudian dikirim ke laboratorium patologi untuk pemeriksaan yang lebih teliti.
Prosedur pemeriksaan Pap smear test mungkin sangat tidak menyenangkan untuk anda, tetapi tidak akan menimbulkan rasa sakit. Mungkin anda lebih memilih dokter wanita untuk prosedur ini, tetapi pada umumnya para dokter umum dan klinik Keluarga Berencana dapat dimintai bantuan untuk pemeriksaan Pap smear test. Usahakanlah melakukan Pap smear test ini pada waktu seminggu atau dua minggu setelah berakhirnya masa menstruasi anda. Jika anda sudah mati haid, Pap smear test dapat anda lakukan kapan saja. Tetapi jika kandung rahim dan leher rahim telah diangkat atau dioperasi (hysterectomy atau operasi pengangkatan kandung rahim dan leher rahim), anda tidak perlu lagi melakukan Pap smear test karena anda sudah terbebas dari resiko menderita kanker leher rahim. Pap smear test biasanya dilakukan setiap dua tahun sekali, dan lebih baik dilakukan secara teratur. Hal yang harus selalu diingat adalah tidak ada kata terlambat untuk melakukan Pap smear test. Pap smear test selalu diperlukan biarpun anda tidak lagi melakukan aktifitas seksual.

Bagaimanakah Tanda-tanda Kanker Serviks?
Perubahan awal yang terjadi pada sel leher rahim tidak selalu merupakan suatu tanda-tanda kanker. Pemeriksaan Pap smear test yang teratur sangat diperlukan untuk mengetahui lebih dini adanya perubahan awal dari sel-sel kanker. Perubahan sel-sel kanker selanjutnya dapat menyebabkan perdarahan setelah aktivitas sexual atau diantara masa menstruasi.
Jika anda mendapatkan tanda-tanda tersebut, sebaiknya anda segera melakukan pemeriksaan ke dokter. Adanya perubahan ataupun keluarnya cairan (discharge) ini bukanlah suatu hal yang normal, dan pemeriksaan yang teliti harus segera dilakukan walaupun anda baru saja melakukan Pap smear test. Biarpun begitu, pada umumnya, setelah dilakukan pemeriksaan yang teliti, hasilnya tidak selalu positip kanker.

Pengobatan
Seperti pada kejadian penyakit yang lain, jika perubahan awal dapat dideteksi seawal mungkin, tindakan pengobatan dapat diberikan sedini mungkin. Jika perubahan awal telah diketahui pengobatan yang umum diberikan adalah dengan:
  1. Pemanasan, diathermy atau dengan sinar laser.
  2. Cone biopsi, yaitu dengan cara mengambil sedikit dari sel-sel leher rahim, termasuk sel yang mengalami perubahan. Tindakan ini memungkinkan pemeriksaan yang lebih teliti untuk memastikan adanya sel-sel yang mengalami perubahan. Pemeriksaan ini dapat dilakukan oleh ahli kandungan.
Jika perjalanan penyakit telah sampai pada tahap pre-kanker, dan kanker leher rahim telah dapat diidentifikasi, maka untuk penyembuhan, beberapa hal yang dapat dilakukan adalah:
  1. Operasi, yaitu dengan mengambil daerah yang terserang kanker, biasanya uterus beserta leher rahimnya.
  2. Radioterapi yaitu dengan menggunakan sinar X berkekuatan tinggi yang dapat dilakukan secara internal maupun eksternal.
Resiko untuk terserang kanker:
Setiap wanita yang pernah melakukan hubungan seksual mempunyai resiko terhadap kanker leher rahim. Sel-sel leher rahim mungkin mengalami perubahan sehingga sangat diperlukan melakukan Pap smear test secara teratur (baik yang telah ataupun yang belum pernah mendapatkan Pap smear test). Demikian juga bagi anda yang merokok kemungkinan untuk mendapatkan kanker leher rahim sangat besar.
Dijumpainya Human Papilloma Virus (HPV) sering diduga sebagai penyebab terjadinya perubahan yang abnormal dari sel-sel leher rahim.
Memiliki pasangan seksual yang berganti-ganti atau memulai aktifitas seksual pada usia yang sangat muda juga memperbesar resiko kemungkinan mendapat kanker leher rahim.
Apa yang harus anda lakukan untuk menghindari kanker leher rahim ?
Yang pertama, jika anda pernah melakukan hubungan seksual anda harus melakukan Pap smear test secara teratur setiap dua tahun dan ini dilakukan sampai anda berusia 70 tahun. Pada beberapa kasus mungkin dokter menyarankan untuk melakukan Pap smear test lebih sering.
Hal yang ke dua adalah melaporkan adanya gejala-gejala yang tidak normal seperti adanya perdarahan, terutama setelah coitus (senggama).
Hal yang ke tiga adalah tidak merokok. Data statistik melaporkan bahwa resiko terserang kanker leher rahim akan menjadi lebih tinggi jika wanita merokok.
Dengan melakukan beberapa tindakan yang dapat memperkecil resiko tersebut, mudah-mudahan kita dijauhkan dari kejadian kanker leher rahim ini. Semoga.
Dapatkah anda membayangkan, bagaimanakah perasaan anda jika mengetahui hasil pemeriksaan 'Pap Smear' anda memberikan hasil abnormal? Tentulah anda akan merasa kuatir dan cemas, manakala anda mendapati bahwa hasil pemeriksaan 'Pap Smear' anda abnormal. Tetapi janganlah terlalu cemas dahulu, karena tidak semua penampakan sel-sel yang abnormal tersebut berarti kanker. Memang 'Pap Smear' dapat mendeteksi kelainan-kelainan perubahan sel-sel leher rahim secara dini. Paradigma yang harus diingat adalah semakin awal ditemukannya kelainan-kelainan pada pemeriksaan 'Pap Smear', maka akan semakin mudah pula diatasi masalahnya.
Apakah artinya jika 'Pap Smear' anda abnormal.
Hasil 'Pap Smear' dikatakan abnormal jika sel-sel yang berasal dari leher rahim anda ketika diperiksa di bawah mikroskop akan memberikan penampakan yang berbeda dengan sel normal. Kejadian ini biasanya terjadi 1 dari 10 pemeriksaan 'Pap Smear'. Beberapa faktor yang dapat memberikan indikasi diketemukannya penampakan 'Pap Smear' yang abnormal adalah:
  1. Unsatisfactory 'Pap Smear'
    Pada kasus ini, berarti pegawai di Lab tersebut tidak bisa melihat sel-sel leher rahims anda dengan detail sehingga gagal untuk membuat suatu laporan yang komprehensive kepada dokter anda. Jika kasus ini menimpa anda sebaiknya anda datang lagi untuk pemeriksaan 'Pap Smear' pada waktu yang akan ditentukan oleh dokter anda.
  2. Jika ada infeksi atau inflamasi
    Kadang-kadang pada pemeriksaan 'Pap Smear' memberikan penampakan terjadinya inflamasi. Ini berarti bahwa sel-sel di dalam leher rahims mengalami suatu iritasi yang ringan sifatnya. Memang kadang-kadang inflamasi dapat kita deteksi melalui pemeriksaan 'Pap Smear', biarpun kita tidak merasakan keluhan-keluhan karena tidak terasanya gejala klinis yang ditimbulkannya. Sebabnya bermacam-macam. Mungkin telah terjadi infeksi yang dikarenakan oleh bakteri, atau karena jamur'. Konsultasikan dengan dokter anda mengenai masalah ini beserta pengobatannya jika diperlukan. Tanyakan kapan anda harus menjalani 'Pap Smear' lagi.
  3. Atypia atau Minor Atypia
    Yang dimaksud dengan keadaan ini adalah jika pada pemeriksaan 'Pap Smear' terdeteksi perubahan-perubahan sel-sel leher rahims, tetapi sangat minor dan penyebabnya tidak jelas. Pada kasus ini, biasanya hasilnya dilaporkan sebagai 'atypia'. Biasanya terjadinya perubahan penampakan sel-sel tersebut dikarenakan adanya peradangan, tetapi tidak jarang pula karena infeksi virus. Karena untuk membuat suatu diagnosa yang definitif tidak memungkinkan pada tahap ini, dokter anda mungkin akan merekomendasikan anda untuk menjalani pemeriksaan lagi dalam waktu enam bulan. Pada umumnya, sel-sel tersebut akan kembali menjadi normal lagi. Jadi, adalah sangat penting bagi anda untuk melakukan 'Pap Smear' lagi untuk memastikan bahwa kelainan-kelainan yang tampak pada pemeriksaan pertama tersebut adalah gangguan yang tidak serius. Jika hasil pemeriksaan menghasilkan hasil yang sama maka anda mungkin disarankan untuk menjalani kolposkopi.

Apakah kolposkopi itu?
Kolposkopi adalah suatu prosedur pemeriksaan vagina dan leher rahims oleh seorang dokter yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Dengan memeriksa permukaan leher rahims, dokter akan menentukan penyebab abnormalitas dari sel-sel leher rahims seperti yang dinyatakan dalam pemeriksaan 'Pap Smear'. Cara pemeriksaan kolposkopi adalah sebagai berikut: dokter akan memasukkan suatu cairan kedalam vagina dan memberi warna saluran leher rahims dengan suatu cairan yang membuat permukaan leher rahims yang mengandung sel-sel yang abnormal terwarnai.. Kemudian dokter akan melihat kedalam saluran leher rahims melalui sebuah alat yang disebut kolposkop. Kolposkop adalah suatu alat semacam mikroskop binocular yang mempergunakan sinar yang kuat dengan pembesaran yang tinggi.
Jika area yang abnormal sudah terlokalisasi, dokter akan mengambil sampel pada jaringan tersebut (melakukan biopsi) untuk kemudian dikirim ke lab guna pemeriksaan yang mendetail dan akurat. Pengobatan akan sangat tergantung sekali pada hasil pemeriksaan kolposkopi anda.

Bagaimanakah dengan aktifitas seksual anda?
Pada tahap ini, anda tidak perlu kuatir dengan aktifitas seksual anda. Anda tidak perlu absen melakukan aktifitas seksual hanya karena pemeriksaan 'Pap Smear' anda positip, karena keadaan kanker atau pre-kanker yang anda derita tidak mungkin ditularkan kepada suami anda. Tetapi jika sedang dalam pengobatan penyembuhan, sebaiknya tanyakanlah kepada dokter anda kapan anda dapat melakukan hubungan sanggama lagi dan seberapa seringnya hubungan tersebut.

Perlukah dilakukan pemeriksaan lanjutan sesudah selesainya pengobatan?
Pemeriksaan lanjutan sesudah selesainya masa pengobatan adalah mutlak diperlukan untuk mendapatkan kepastian bahwa area yang telah diobati telah sembuh sama sekali. Biarpun metode pengobatan yang anda dapatkan sangat efektif, sel-sel yang abnormal kadang-kadang dapat kambuh lagi, bahkan dapat berkembang dengan derajat keparahan yang lebih tinggi. Jadi deteksi dini adalah hal yang sangat esensial sekali. Selama dua tahun pertama masa pengobatan anda, anda disarankan untuk menjalani pemeriksaan 'Pap Smear' setiap tiga bulan atau enam bulan sekali. Jika setelah tiga kali pemeriksaan berturut-turut hasil 'Pap Smear' anda normal, ini berarti anda telah dapat dinyatakan sembuh, dan anda dapat melakukan pemeriksaan 'Pap Smear' tersebut setiap tahun sekali secara kontinyu.

Australia, 21 Desember 1999
Yohanes Riono

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

perawatan bayi mencret

BAYI TAK BOLEH DIPAKAIKAN GURITA

Begitu kata dokter, kebalikan dari kebiasaan yang terjadi selama ini. Memang, tak sedikit kebiasaan turun- temurun dalam merawat bayi yang bertentangan dengan dunia medis. Bagaimana kita menyikapinya?

Dalam merawat sang buah hati, hampir bisa dipastikan kita akan "dihujani" oleh
segala macam nasihat ataupun larangan dari lingkungan, entah kakek-nenek, orang
tua, kaum kerabat, maupun tetangga. Umumnya, nasihat/larangan tersebut
merupakan kebiasaan-kebiasaan praktek perawatan bayi yang bersifat turun-temurun.

Namun, "seringkali nasihat dan larangan tersebut tak bisa diterima akal sehat,
meskipun ada pula yang kedengarannya masuk akal," ujar dr. Eric Gultom, Sp.A. dari
Bagian Ilmu Kesehatan Anak FKUI-RSUPN Cipto Mangunkusumo dalam cara Ibu Bayi
dan Balita di ANTeve, kerja sama nakita dengan PT Endrass Perdana. Misalnya, bayi
tak boleh digendong dengan kedua tungkai memeluk tubuh ibu agar kelak tungkainya
tak pengkor, bengkok, atau melengkung. Begitu pula dengan nasihat untuk
membedong bayi agar kelak bentuk kakinya jadi bagus.

"Kedengarannya memang masuk akal bahwa cara menggendong dengan posisi
demikian mungkin saja akan menyebabkan pengkar. Apalagi pada kenyataannya, saat
lahir, tungkai bayi memang penampilannya bengkok atau melengkung," tutur Eric
yang juga berpraktek di RSIA Lestari, Cirendeu dan RS Medistra. Tapi, lanjutnya, bila
dijelaskan dengan cara lain, akan tampak penjelasan tersebut kurang masuk akal.

Semua bayi, tutur Eric, kakinya memang akan tampak melengkung ketika lahir.
Pasalnya, rongga rahim sangat terbatas ruangnya. Nah, agar si bayi cukup dalam
rongga rahim, posisinya harus sedemikian rupa sehingga kedua tungkai dalam posisi
bersila dan melengkung ke atas. "Tentunya dalam posisi demikian selama 9 bulan,
akan menyebabkan kedua tungkai penampilannya melengkung ketika lahir." Selain itu,
tulangnya masih lebih lunak dan sedang bertumbuh sehingga gampang sekali
terbentuk melengkung.

Kendati demikian, tungkai yang melengkung ini berangsur-angsur akan lurus kembali sejalan dengan pertumbuhan bayi. Kecuali bila ada faktor genetik dimana salah satu orang tua penampilan tungkainya tak lurus atau melengkung, akan diturunkan pada anaknya. Jadi, tukas Eric, "melengkung tidaknya tungkai tak tergantung posisi ketika menggendong bayi." Begitupun bila bayi tak dibedong, kakinya akan tumbuh lurus sesuai potensi genetik yang dimilikinya.

MEMBAHAYAKAN BAYI

Berbagai praktek perawatan bayi yang mengikuti kebiasaan-kebiasaan turun-temurun ini, menurut Eric, seringkali bukan hanya kurang dapat diterima dasar ilmiahnya, tapi juga bisa merugikan. Misalnya, pemakaian gurita untuk bebat perut bayi. Kata orang, supaya bayi jangan masuk angin." Ada pula yang bilang, agar perutnya enggak besar dan pusarnya enggak bodong.

Dalam dunia medis, tuturnya, tak dikenal istilah masuk angin. "Istilah ini mungkin
maksudnya aerophagia , yaitu bayi banyak mengandung udara di lambungnya
sehingga terlihat kembung. Hal ini bisa disebabkan bayi menangis lama atau cara
minum susu botol kurang betul." Jadi, Bu-Pak, sama sekali tak ada kaitannya dengan
pemakaian gurita.

Begitupun dengan perut besar dan pusar bodong. "Besar kecilnya perut ditentukan
oleh ketebalan kulit, lemak kulit, dan otot perut yang sanggup menahan daya dorong

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

alat kontrasepsi

Pusat Medis.Com

Solusi Untuk Kesehatan
Ads

Mengenal Alat Kontrasepsi

Kupas Tuntas Kontrasepsi

kartun_kondomDi usia yang masih muda belia ini… keinginan kita untuk memiliki anak tampaknya masih jauh. Habis, baru saja menikah, kita masih ingin ‘memperpanjang’ bulan madu kita dengan suami.. lagi pula kita baru memulai karier dan belum selesai kuliah. Sayang juga kalau kesempatan promosi atau wisuda tertunda karena keburu punya anak.

Nggak mau rugi kan ? sebelum memutuskan kontrasepsi mana yang akan kita pakai. Sebaiknya kita cari tahu dulu yang paling cocok dengan kondisi tubuh kita. Salah pilih, bisa jadi tidak akan efektif dan jangan menyesal kalau bulan ini ‘palang merah’ tidak juga datang.

KENALAN DULU, banyaknya alat kontrasepsi yang beredar selama ini mungkin akan mebuat kita bingung, mana yang paling esuai dengan kita ? kalau selama ini kita mengira selalu membutuhkan alat yang harus masuk dalam tubuh kita untuk menunda kehamilan tidak sepenuhnya benar. Lalu dengan metode apa dong ?

Pernah mendengar sistem kalender dan senggama terputus ? saya yakin anda sudah familiar dengan sistem tersebut. Nah.. metode pertama adalah metode dengan cara menentukan kapan bercinta dengan menghitung masa subur kita. Sebelum menjalankan metode ini, kita sudah mengetahui lama siklus haid kita selama tiga bulan terakhir.

Kalau sudah tahu, tinggal menghitung masa subur, dan pastinya boleh bercinta pada saat kita dalam keadaan ‘kering’ alias tidak subur. Metode ini memiliki sedikit kelemahan, terutama untuk kita yang siklus haidnya tidak teratur. Dalam menghitung masa subur, tentunya kita akan menemui kesulitan. Satu lagi, buat kita yang sangat suka kegiatan bercinta, rasa-rasanya agak sulit menerapkan metode ini. Mana bisa tahan menunda bercinta pas masa subur..

PUTUS TUS, cara kedua menunda kehamilan tanpa alat bantu adalah dengan melakukan senggama terputus. Kita bisa bercinta kapan pun, termasuk di saat masa subur, tetapi pada saat hampir ejakulasi, adik kecil si dia harus buru-buru keluar dari taman kecil kita sebelum ‘pasukan’ spermanya masuk taman kita.

Cara ini dapat mengurangi kemungkinan terjadinya pembuahan.
Sayangnya, resiko kegagalan metode ini cukup tinggi, soalnya kontrol tidak ada pada kita. Seringkali terjadi cairan sperma cepat keluar, bahkan sebelum si dia merasa telah terjadi ejakulasi. Kadang-kadang si dia juga enggan menarik penisnya saat puncak ejakulasi terjadi karena mengurangi kenikmatan bercinta. Jika tidak dalam kedaan sadar penuh sebaiknya tidak melakukan metode ini.

PALING GAMPANG, beberapa alat kontrsepsi ini tergolong paling mudah didapat, sekaligus mudah diaplikasikan. Kita tidak perlu megunjungi dokter atau praktisi kesehatan untuk memakaikan alat ini dalam tubuh kita.

KONDOM, alat kontrasepsi ini terbuat dari karet yang sangat tipis dan relaitf kuat yang digunakan dengan membungkus penis agar sperma yang keluar tidak tidak tumpah ke dalam vagina. Kondom dilengakapi dengan jenis cairan pelumas sehingg adik kecilnya mudah mengenakannya. Biar efektif, segera setelah bercinta adik kecilnya harus segera keluar, agar penis tidak mengecil selagi masih ada dalam vagina dan menyebabkan tumpahnya cairan sperma yang telah ditampung.

Selain mudah,kondom juga banyak kelebihannya, yaitu dapat mencegah penularan penyakit kelamin, membantu mencegah kanker leher rahim dan dapat digunakan untuk menangkal penularan virus HIV kalau ada yang bilang kondom bisa mengurangi kenikmatan bercinta, hal tersebut sama sekali tidak benar.

DIAFRAGMA, terbuat dari bahan karet dan agak tebal, kontrasepsi ini dimasukkan ke dalam vagina semacam sekat yang dapat mencegah masuknya sperma ke dalam rahim. Diafragma dipakai saat hendak bercinta. Karena bahannya lebih tebal dari kondom, kontrasepsi inijarang mengalami kebocoran.

Kekurangan alat kontrasepsi ini sama seperti kondom. Sebaagaian dari kita mungkin ada yang alergi dengan karet atau lateks, sehingga bisa menyebabkan iritasi. Ada juga yang mungkin akan merasa nyeri di kandung kemihnya, biasaya terjadi karena kita tidak tepat memasangnya.

Post Metadata

Date
April 3rd, 2009

Author
Ahli medis

Category

Tags

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS