Oleh dr. Simplicia Maria A Fernandez, SpA
(SMF Anak RSUD Prof. Dr. WZ Johannes-Kupang/Anggota Tim Revolusi KIA Dinkes Provinsi NTT)
HINGGA saat ini, 536.000 perempuan meninggal setiap tahunnya karena komplikasi kehamilan dan persalinan, di mana 99 persen terjadi di negara sedang berkembang termasuk Indonesia. Dapat dikatakan, setiap satu menit satu nyawa perempuan tak tertolong. Selain itu, 4.3 juta bayi meninggal dalam bulan pertama usianya dan 4 juta bayi lahir mati karena komplikasi kehamilan dan proses persalinan (Harian Kompas, 7 Agustus 2009, hal. 33).
Hasil Survai Kesehatan Nasional (Surkesnas) 2004 menunjukkan bahwa Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia adalah 307 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan di Provinsi NTT adalah 554 per 100.000 kelahiran hidup. Sedangkan angka kematian bayi (AKB), Nasional 52 per 1000 kelahiran hidup dan di Provinsi NTT adalah 62 per 1000 kelahiran hidup. Angka ini masih jauh di atas angka rata-rata Provinsi lainnya di Indonesia.
Mencermati kondisi ini dan memahami bahwa penurunan AKI dan AKB di NTT masih lambat bila dikaitkan dengan target Millenium Developmental Goals yang menargetkan pada tahun 2015 AKI berkurang tiga perempat dan angka kematian anak balita berkurang dua pertiga dibanding keadaan tahun 2000 saat MDGs dideklarasikan, juga bila dibandingkan AKI dan AKB pada tahun 2004, maka Pemerintah Provinsi NTT mencanangkan Revolusi KIA dalam upaya percepatan penurunan angka kematian ibu dan bayi.
Revolusi KIA di Provinsi NTT intinya adalah membawa setiap ibu hamil untuk bersalin di fasilitas kesehatan yang memadai. Salah satu strategi untuk mendukung upaya ini adalah tersedianya penolong persalinan yang benar-benar kompeten di bidangnya, ditunjang oleh tempat/fasilitas, alat dan obat-obatan yang memadai dan terstandarisasi, serta tatalaksana kasus yang juga terstandarisasi serta tersedianya pembiayaan yang memadai (biaya operasional dan biaya pemeliharaan).
Asuhan Bayi Baru Lahir
Dalam upaya menurunkan AKB, selain tindakan asuhan persalinan yang tepat dan benar, juga tidak kalah pentingnya adalah asuhan bayi baru lahir yang tepat dan benar juga. Menurut data Survai Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 2001, penyebab kematian neonatal (bayi sampai usia 28 hari) paling tinggi adalah karena bayi berat lahir rendah (BBLR, didefinisikan sebagai bayi yang lahir dengan berat badan kurang dari 2500 gram), yaitu sebesar 29 persen. Disusul penyebab urutan kedua karena asfiksia pada bayi baru lahir (asfiksia adalah keadaan bayi baru lahir yang gagal atau tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur), sebesar 27 persen.
Pada setiap kasus persalinan, penolong persalinan seyogyanya senantiasa siap siaga untuk memberikan tatalaksana bayi dengan asfiksia. Tidak setiap kasus asfiksia dapat diramalkan sebelum bayi lahir, mengingat 90 persen penyulit terjadi pada saat persalinan. Di dalam benak setiap penolong persalinan harus sudah ada empat pertanyaan yang menunjukkan risiko bayi yang membutuhkan resusitasi (upaya pemulihan/pertolongan kegawatdaruratan sistem pernafasan dan sistem peredaran darah), yaitu:
- Apakah bayi lahir cukup bulan?
- Apakah cairan ketuban jernih?
- Apakah bayi lahir bernapas atau menangis?
- Apakah tonus otot bayi baik?
Jika salah satu dari empat pertanyaan di atas dijawab tidak, maka bayi memerlukan tindakan resusitasi, yang tentunya hanya dapat dilakukan di fasilitas kesehatan yang memadai.
Tatalaksana resusitasi pada kasus di atas dapat berupa:
- memberikan kehangatan pada bayi untuk mencegah hipotermia (suhu tubuh di bawah normal),
- membuka jalan napas dengan memposisikan kepala bayi setengah tengadah dan membersihkan jalan napas jika perlu,
- pemberian oksigen,
- memberikan napas buatan dengan alat,
- kompresi dada (pijat jantung),
- dan mungkin pemberian obat-obatan langsung ke pembuluh darah bayi.
Penolong persalinan di fasilitas kesehatan yang memadai (dokter umum/spesialis, bidan, dan perawat) sudah memperoleh pelatihan sehingga mampu melakukan langkah-langkah resusitasi ini sesuai algoritma, di mana setiap tindakan didasari pada penilaian kondisi bayi dalam hal: usaha bernapas, frekuensi denyut jantung dan warna kulitnya.
Penilaian dan keputusan setiap tindakan selanjutnya dilakukan setiap 30 detik. Jika upaya resusitasi ini terlambat dimulai atau tidak dilakukan dengan tepat dan benar, dapat mengakibatkan kecacatan dan kematian.
Selanjutnya, bayi baru lahir yang sudah mengalami tindakan resusitasi, masih memerlukan perawatan di bawah pengamatan tenaga kesehatan. Jika bayi sampai memperoleh tindakan resusitasi berupa pemberian napas buatan dan seterusnya, bayi tersebut bahkan harus dirawat pada ruang rawat intensif khusus untuk bayi baru lahir (NICU: Neonatal Intencive Care Unit).
Bayi dengan berat lahir rendah (BBLR), dapat dikelompokkan menjadi dua golongan, yaitu bayi yang lahir belum cukup bulan (prematur) atau bayi lahir cukup bulan tetapi kecil menurut masa kehamilannya (KMK).
Bayi KMK dapat dikatakan sebagai bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan semenjak dalam rahim ibunya, atau bayi yang mengalami malnutrisi atau kurang gizi semasa masih dalam rahim.
BBLR juga berisiko tinggi mengalami asfiksia pada saat lahir, terutama BBLR yang prematur. Asuhan bayi baru lahir pada bayi ini juga akan makin kompleks, mengingat BBLR seringkali mempunyai masalah dalam pemberian minum, atau bahkan karena ada penyulit-penyulit lain lagi, belum dapat diberi minum sama sekali sehingga membutuhkan pemberian cairan lewat jalur infus.
Untuk bayi yang belum dapat minum sendiri, diperlukan bantuan dari tenaga kesehatan untuk memberikan minum berupa air susu ibu yang diperah (ASI perah) melalui selang yang langsung masuk ke lambung bayi (orogastric tube), atau pemberian minum dengan menggunakan cangkir dan sendok karena bayi prematur atau bayi kecil seringkali belum mampu menyusu langsung pada ibunya. Setelah bayi mampu mengisap dan menelan, akan dilatihkan untuk menyusu pada ibunya, sehingga BBLR akan tetap dapat memperoleh ASI.
Selain masalah dalam pemberian minum, BBLR rentan terhadap pengaruh suhu lingkungan yang dingin dan dapat menyebabkan hilangnya panas tubuh bayi, sehingga berisiko tinggi untuk terjadinya hipotermia yang dapat berakibat kematian. Dalam hal ini dibutuhkan perawatan BBLR dalam inkubator atau kotak penghangat di fasilitas kesehatan. Setelah suhu bayi stabil, untuk mencegah terjadinya hipotermia berulang, akan dilatihkan kepada ibu atau anggota keluarga yang lain cara menjaga kehangatan tubuh bayi dengan Perawatan Metode Kangguru (PMK).
PMK ini dapat dilakukan dan dilanjutkan di rumah, yang intinya adalah upaya menjaga kehangatan tubuh bayi melalui kontak kulit bayi dengan kulit tubuh ibu atau angota keluarga lain, dengan posisi seperti seekor kangguru yang menggendong janin/bayinya.
Kontak kulit dengan kulit atau PMK ini dapat menggantikan fungsi inkubator atau kotak penghangat, bagi bayi prematur atau bayi kecil yang sudah teratasi penyulitnya dan sudah dapat dirawat di rumah.
BBLR juga berisiko terhadap terjadinya hipoglikemia (kadar gula darah di bawah normal), hiperbilirubinemia (bayi kuning), dan infeksi berat. Penyulit-penyulit di atas juga menjadi penyebab tersering kematian pada BBLR.
Sesungguhnya, upaya yang paling tepat untuk menghindari BBLR dengan berbagai penyulitnya adalah dengan upaya pencegahan terjadinya BBLR berupa antara lain:
- mencegah kelahiran prematur
- pemeriksaan selama kehamilan secara teratur dan berkualitas
- meningkatkan status gizi ibu hamil
- menghindari merokok dan atau terisap asap rokok selama hamil.
Selain kemungkinan bayi lahir dengan BBLR dan atau asfiksia, sebagian besar bayi lahir normal dan bugar. Bayi dikatakan bugar bila: lahir langsung menangis, gerakan atau tonus otot kuat, dan warna kulit kemerahan. Untuk bayi yang demikian, dilakukan asuhan bayi baru lahir rutin berupa:
- membersihkan jalan napas, bila perlu
- mengeringkan
- memberikan kehangatan
Dalam memberikan kehangatan pada bayi yang bugar, dilakukan dengan jalan meletakkan bayi tengkurap di perut atau dada ibu dan membiarkan terjadi kontak kulit bayi dengan kulit ibu paling sedikit selama 60 menit. Dalam periode ini, umumnya bayi akan terjaga dan siaga, kemudian mulai menggerak-gerakkan mulutnya seperti mau minum dan mengeluarkan air liur, lalu bergerak merangkak ke arah payudara, mencari dan menemukan puting susu ibu, kemudian mulai menyusu sendiri. Ajaib!!
Inisiasi Menyusu Dini
Tindakan meletakkan bayi di atas perut atau dada ibu dan membiarkan terjadinya kontak kulit bayi dengan kulit ibu inilah yang dikenal sebagai inisiasi menyusu dini (IMD). Ternyata, bayi manusia juga seperti bayi mamalia yang lain mempunyai kemampuan untuk menyusu sendiri, mencari makanan alami sumber kehidupannya sendiri, asalkan dibiarkan kontak kulit bayi dengan kulit ibunya paling kurang selama 60 menit.
Pada dekade terakhir ini mulai disosialisasikan tindakan IMD ini pada semua bayi lahir yang bugar. Penelitian oleh Dr. Karen Edmond di Ghana pada tahun 2006 terhadap hampir 11.000 bayi yang dilakukan IMD, membuktikan bahwa IMD dapat menurunkan angka kematian neonatal sampai 22 persen (Pediatrics, Maret 2006). Jika fakta saat ini dalam setahun ada 4,3 juta neonatus yang meninggal, maka dengan IMD seharusnya akan ada sejuta bayi yang terselamatkan.
Penelitian lain membuktikan bahwa IMD dapat meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Pada usia 6 bulan dan setahun, di antara bayi yang dilakukan IMD terdapat 59 persen dan 38 persen yang masih menyusu, dibandingkan dengan 29 persen dan 8 persen bayi tanpa IMD (Sose dkk, Ciba Foundation, 1978). Penelitian oleh Fika dan Syafiq di Jakarta, menyimpulkan bahwa bayi dengan IMD 8 kali lebih berhasil menyusu 6 bulan eksklusif (Jurnal Kedokteran Trisakti, 2003).
Manfaat lain dari IMD dapat disebutkan sebagai berikut (Dr. Utami Roesli, SpA, MBA, IBCLC, 2008):
- Kulit perut dan dada ibu berperan sebagai termoregulator yang tepat sehingga mengurangi risiko bayi untuk mengalami hipotermia
- Ibu dan bayi merasa tenang, pernapasan dan denyut jantung bayi lebih stabil, bayi lebih jarang menangis sehingga mengurangi penggunaan energi
- Saat bayi merangkak mendekati payudara, biasanya sambil menjilat-jilat kulit ibu dan memungkinkan tertelannya bakteri 'baik' dari kulit ibu. Bakteri ini akan membentuk koloni di kulit dan usus bayi yang akan 'menyaingi' dan melindungi bayi dari bakteri 'jahat' yang berasal dari lingkungan
- Hentakan kepala bayi, sentuhan tangan bayi pada puting ibu, jilatan dan isapan bayi akan merangsang hormon oksitosin yang juga dapat membantu menyembuhkan rahim ibu.
- Bayi segera memperoleh air susu pertama yang dikenal sebagai kolustrum, yang banyak sekali mengandung zat-zat antiinfeksi
- Ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi (bonding) akan lebih kuat, sehingga meningkatkan rasa percaya diri ibu dalam keberhasilan menyusui dan mendidik anaknya.
- Bila ayah juga ikut mendampingi, maka akan memberikan rasa takjub dan meningkatkan rasa percaya diri juga sebagai seorang ayah.
IMD dengan segala manfaat di atas, terbukti meningkatkan keberhasilan pemberian ASI eksklusif dan keberhasilan pemberian ASI sampai anak usia 2 tahun atau lebih. Dengan pemberian ASI, terbukti dapat mengurangi angka kesakitan karena ASI banyak mengandung zat-zat antiinfeksi (yang tidak dapat ditiru atau ditambahkan dalam susu formula apapun), mengurangi kejadian gizi kurang dan gizi buruk, mengurangi pengeluaran di tingkat rumah tangga dibanding jika harus membeli susu formula dan harus mengeluarkan biaya untuk pengobatan bila anak sakit, dan pada akhirnya akan berdampak besar pada penurunan AKB.
Sebagai resume dari tulisan ini, dalam ranah Revolusi KIA Provinsi NTT, jika setiap ibu hamil bersalin di fasilitas kesehatan yang memadai, mendapat asuhan bayi baru lahir oleh penolong persalinan yang kompeten, dengan tatalaksana yang terstandarisasi, serta dilakukan inisiasi menyusu dini (IMD) pada setiap bayi yang lahir bugar, akan banyak bayi-bayi terselamatkan dan AKB diyakini akan berhasil diturunkan dengan lebih cepat. *